syair dhammapada tentang kebahagiaan

Prestasiberakar dari semangat dalam mengerjakan sesuatu. Secara teknis semangat dalam konteks dhamma disebut sebagai kualitas batin viriya. Viriya adalah sebuah kondisi batin yang memiliki energi, tekad atau usaha. Viriya menjadi kata kunci yang harus dimiliki oleh seseorang yang ingin meraih kesuksesan atau prestasi dalam hidupnya. Didalam syair Dhammapada bab 1 ayat 5, Sang Buddha pernah menyatakan bahwa: "Kebencian tidak akan pernah berakhir, apabila dibalas dengan kebencian. Kebencian baru akan berakhir, bila dibalas dengan tidak membenci. Inilah satu hukum abadi". Inilah yang perlu kita pahami agar api kebencian tidak membakar kebahagiaan. MenaklukkanSifat Iri Hati. (By: Bht. Kusalasarano). Ayasā'va malaṁ samuṭṭhitaṁ, taduṭṭhāya tam'eva khādati Evaṁ atidhonacārinaṁ, saka kammāni nayanti Kepercayaanadalah saudara yang paling baik. Nibbāna adalah kebahagiaan yang tertinggi. (Dhammapada 204) DOWNLOAD AUDIO. Kitab Suci Dhammapada merupakan salah satu kitab dalam Agama Buddha yang terdapat dalam Khuddaka Nik?ya. Memuat khotbah-khotbah Sang Buddha yang disusun dalam bentuk syair dengan jumlah 423 syair. SYAIRSYAIR PENDAMPING Sumber : Indonesia Tipitaka Center 1(7). Setelah mengalami berbagai macam penderitaan dan berbagai macam kebahagiaan dalam berbagai kehidupan500, aku meraih Pencerahan Mandiri yang luhur. 2(8). Setelah memberikan dana-dana yang sepatutnya diberikan501, setelah memenuhi sila secara keseluruhan, setelah melakukan Kesempurnaan dalam pelepasan, aku mencapai Pencerahan Sites De Rencontres Gratuits En France. Skip to content Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair kelima puluh dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada pertapa Paveyya dan seorang wanita kaya raya. Seorang wanita kaya raya dari Savatthi telah mengangkat Paveyya, seorang pertapa, sebagai anak angkatnya dan memenuhi semua kebutuhannya. Ketika dia mendengar para tetangganya memuji Sang Buddha, dia sangat berharap dapat mengundang beliau ke rumahnya untuk menerima dana makanan. Maka, Sang Buddha diundang ke rumah wanita tersebut dan makanan terpilih telah disiapkan. Ketika Sang Buddha menyampaikan anumodana, Paveyya, yang berada di ruang sebelah, menjadi sangat murka. Dia menyalahkan dan mengutuk wanita tersebut karena menghormati Sang Buddha. Wanita tersebut mendengar kutukan serta teriakannya dan menjadi sangat malu sehingga dia tidak dapat berkonsentrasi terhadap apa yang disampaikan oleh Sang Buddha. Sang Buddha berkata kepadanya agar tidak perlu memperhatikan kutukan-kutukan dan perlakuan tersebut, tetapi hanya pada perbuatan baik dan perbuatan buruk yang dilakukan oleh dirinya sendiri. Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut Janganlah memperhatikan kesalahan-kesalahan orang lain atau hal yang sudah dikerjakan atau belum dikerjakan oleh orang lain. Sebaiknya seseorang memperhatikan hal-hal yang sudah dikerjakan atau belum dikerjakan oleh dirinya sendiri. Wanita kaya raya tersebut mencapai tingkat kesucian Sotapatti setelah khotbah Dhamma tersebut berakhir. Sumber Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production Post navigation BERSYUKUR DAN BERTERIMA KASIH Ä€rogyaparamā lābhā, santuá¹­á¹­há¿paramaṁ dhanaṁ; Vissāsaparamā ñāti, nibbānaṁ paramaṁ sukhaṁ.Kesehatan adalah keuntungan yang paling besar. Kepuasan adalah kekayaan yang paling berharga. Kepercayaan adalah saudara yang paling baik. Nibbāna adalah kebahagiaan yang tertinggi.Dhammapada 204 DOWNLOAD AUDIO Kitab Suci Dhammapada merupakan salah satu kitab dalam Agama Buddha yang terdapat dalam Khuddaka Nik?ya. Memuat khotbah-khotbah Sang Buddha yang disusun dalam bentuk syair dengan jumlah 423 syair. Pada kesempatan kali ini akan dibahas salah satu syair yang terdapat dalam Sukha Vagga, yaitu syair 204. Syair tersebut dibabarkan oleh Sang Buddha kepada Raja Pasenadi dari Kosala setelah sebelumnya Raja Pasenadi mengikuti nasihat dari Sang Buddha untuk mengurangi makan. Syair tersebut membahas tentang sebab-sebab kebahagiaan, antara lain kesehatan, kepuasan, kepercayaan, dan Nibb?na. Tiga hal yang pertama dapat diperoleh, dijaga, dan dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai hal yang patut disyukuri. Tentu semua orang ingin agar hidupnya sehat, mudah merasa puas, serta mendapat kepercayaan dari kerabat dekat maupun masyarakat. Bersyukur dan berterima kasihDalam Kitab Suci A?guttara Nik?ya Buddha menjelaskan tentang tiga jenis manusia yang jarang atau langka di dunia ini. 1 Pertama, seorang Tath?gata, seorang Arahat, yang tercerahkan sempurna. 2 Kedua, seorang yang mengajarkan Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tath?gata. 3 Ketiga, seorang yang bersyukur dan berterima kasih. Ketiga jenis orang ini adalah jarang di dunia ini. Sering kali seseorang terlalu mendambakan hal-hal di luar diri yang belum diperoleh. Ketika cita-cita dan harapannya tersebut tidak tercapai lalu merasa sedih dan kecewa. Padahal, sebenarnya ia sudah memiliki hal-hal yang patut untuk disyukuri. Ia lupa untuk bersyukur dan berterima kasih atas apa yang sudah dimiliki pada saat ini. Bersyukur pada awalnya memang tidak mudah, namun hal tersebut dapat dicapai dari latihan. Kesehatan adalah keuntungan yang paling besarR?pa atau tubuh jasmani merupakan sarang penyakit dan suatu saat pasti akan diserang penyakit. Tetapi, bukan berarti seseorang kemudian lantas melalaikan kesehatan dirinya sendiri. Kesehatan adalah hal yang sangat berharga, karena dapat menunjang aktivitas seseorang. Hal inilah yang kiranya penting untuk dipahami dengan benar. Bahkan, di dinding beberapa rumah sakit di Sri Lanka, penggalan syair ?rogyaparam? l?bh?’ ditampilkan dalam huruf besar untuk mengingatkan besarnya manfaat dari kesehatan. Kepuasan adalah kekayaan yang paling berhargaSetiap orang tidak terlepas dari keinginan, baik keinginan yang sederhana, sampai keinginan yang membuat batin tersiksa. Bila tidak disadari, keinginan-keinginan rendah dapat mengantarkan seseorang pada semakin berkembangnya nafsu dan keserakahan. Ketika seseorang bisa melenyapkan keserakahan dan kekikiran, maka kebahagiaan yang didapat dari kepuasan akan menjadi kekayaan yang adalah saudara yang paling baikMemiliki saudara dekat yang mengerti dan melindungi adalah dambaan banyak orang. Tatkala seseorang dalam kesulitan, saudara dekat siap mengulurkan tangan. Kepercayaan dari lingkungan dan masyarakat, bekerja seperti halnya saudara dekat. Menolong baik ketika diminta maupun ketika tidak diminta. Bahkan, lebih jauh lagi, dapat mengantarkan seseorang pada kesuksesan dan mudah bersyukur dimulai dari hal sederhanaKetika sedih dan kecewa muncul lantaran tidak mendapatkan apa yang diinginkan, ingatlah pada tiga hal ini kesehatan, kepuasan, dan kepercayaan. Ketiga hal ini telah dimiliki, namun kadang tidak disyukuri. Penyebabnya karena pikiran yang tidak terkendali. Oleh karena itu, berusaha memunculkan rasa syukur dan berterima kasih dalam kehidupan sehari-hari amatlah penting. Dimulai dari bersyukur dan berterima kasih pada hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita. Ketika hal ini dilatih secara terus-menerus tanpa kenal lelah, maka perlahan akan muncul dan berkembang menjadi sifat. Lebih jauh lagi, sifat baik ini akan berkembang menjadi karakter. Tentu setiap orang mengharapkan dirinya memiliki karakter yang baik. Salah satu contoh dari seseorang yang berkarakter baik adalah mereka yang dapat mensyukuri semua makhluk hidup 2011. Kitab Suci Dhammapada. Terjemahan oleh R?javar?c?riya. 2013. Singkawang Selatan Bahussuta 2015. A?guttara Nik?ya Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha Jilid 1. Jakarta DhammaCitta Press. DHAMMA SEBAGAI PEDOMAN HIDUP Dhammaṁ care sucaritaṁ, na taṁ duccaritaṁ care; Dhammacāri sukhaṁ seti, asmiṁ loke paramhi seseorang hidup sesuai dengan Dhamma dan tidak menempuh cara-cara jahat, barang siapa hidup sesuai dengan Dhamma, maka ia akan hidupbahagia di dunia ini maupun di dunia selanjutnya.Kitab Suci Dhammapada Syair 169 DOWNLOAD AUDIO Kehidupan kita sebagai manusia selayaknya dijalani sesuai dengan ajaran kebajikan Dhamma yang sudah diajarkan oleh Sang Buddha, sehingga hidup menjadi tidak sia-sia. Kehidupan manusia yang bijaksana dapat dikatakan tidak sia-sia karena orang bijaksana sudah jelas memiliki Dhamma di dalam dirinya. Sedangkan Dhamma tidak akan dimiliki oleh orang yang tidak bijaksana karena ia tidak pernah merasa tertarik dengan Dhamma sehingga membuat hidupnya menjadi sia-sia karena tidak bisa memahami dan mengerti kebenaran akan hidup dan kehidupan ini. Dhamma sebagai ajaran kebenaran merupakan jalan yang sudah ditunjukkan oleh Sang Buddha sebagai jalan untuk menempuh hidup yang lebih baik dan bahagia serta untuk mencapai tujuan hidup yang lebih tinggi yaitu Nibb?na. Menjalani kehidupan sebagai perumah tangga bukan berarti tidak punya kesempatan untuk praktik Dhamma. Kehidupan ini adalah kesempatan yang paling baik karena kita lahir sebagai manusia dan bertemu dengan Dhamma. Kondisi seperti ini hendaknya dijalani dengan sebaik-baiknya untuk memperbaiki hidup kita lebih baik dan mulia saat ini dan di masa mendatang. Dalam kehidupan ini hendaknya Dhamma kita gunakan sebagai pedoman hidup kita yang mengharapkan kehidupan yang bahagia. Dengan begitu kita semua memiliki tugas untuk belajar dan praktik Dhamma agar hidup kita senantiasa damai dan bahagia. Dhamma itu harus kita kembangkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita mendapatkan manfaat dari Dhamma. Di dalam Sa?yutta Nik?ya, Sang Buddha menjelaskan bahwa ada empat Dhamma yang harus dikembangkan sebagai seorang perumah tangga dalam kehidupan sehari-hari yaitu adalah kejujuran dan selalu menepati janji kepada orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, kejujuran sulit ditemukan namun bila kita memilikinya kita akan mudah mendapatkan kepercayaan orang lain. Dalam syair Dhammapada menjelaskan kepercayaan adalah saudara yang paling baik. Jika di dalam diri kita tidak ada kejujuran maka kita akan sering berbohong, berbohong adalah sila ke-4 dari Pañcas?la Buddhis. Orang yang melanggar salah satu dari Pañcas?la Buddhis yaitu sila ke-4 yang tidak peduli dengan kehidupan mendatang, maka ia akan selalu melakukan kejahatan. Oleh karena itu, Sang Buddha juga menasihati kita dalam syair Dhammapada 223 bahwa “kalahkan kebohongan dengan kejujuran”. adalah pengendalian pikiran yang baik. Pikiran adalah sumber dari segala perbuatan yang kita lakukan, sedangkan perbuatan itu sendiri yang menentukan diri kita bahagia atau menderita. Pikiran adalah salah satu dari tiga pintu perbuatan yaitu pikiran, ucapan, dan perbuatan jasmani. Pikiran adalah penguasa dan memiliki peran pertama dalam menentukan arah kehidupan kita. Sang Buddha mengajarkan di dalam Dhammapada syair 1 dan 2 bahwa “pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikuti-nya, bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menarik-nya”. Dan sebaliknya, Sang Buddha juga menjelaskan secara gamblang pada syair ke-2 “pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran baik, maka kebahagiaan akan mengikuti-nya, bagaikan bayang-bayang yang tak akan meninggalkan bendanya”. adalah kesabaran dalam menghadapi setiap persoalan yang sulit. Sang Buddha menjelaskan di dalam syair Dhammapada 184 bahwa “kesabaran adalah praktik bertapa paling tinggi”. Kesabaran dibutuhkan untuk mencapai cita-cita tertinggi atau pencerahan. Kesabaran adalah senjata kita dalam menghadapi segala bentuk fenomena yang sulit dan tidak menyenangkan. Setiap kondisi yang tidak menyenangkan adalah guru terbaik untuk melatih kesabaran kita. Kesabaran adalah salah satu dari sepuluh paramita yang harus disempurnakan oleh seorang calon Buddha untuk bisa mencapai kesempurnaan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus melatih kesabaran ketika orang lain merendahkan kita, menghina, men-cela, menyakiti, membenci ini adalah kondisi terbaik untuk selalu bersabar dengan senantiasa terima kasih anda sudah mematangkan kamma buruk saya, dan selamat anda sedang menanam kamma buruk yang baru’. adalah kemurahan hati terhadap mereka yang membutuhkan pemberian. Kemurahan hati yang paling dasar yang tidak membutuhkan biaya mahal adalah memberikan senyuman pada orang lain, memberikan ucapan-ucapan yang me-nyenangkan pada orang lain atau dengan memberikan 3 S, yaitu senyum, sapa, dan salam, ini adalah cara yang paling mudah. Di dalam syair Dhammapada 223, Sang Buddha menasihati kita bahwa “kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati”, kemurahan hati tidak akan dimiliki oleh orang-orang yang batinnya diliputi oleh kekikiran sehingga kita harus mengalahkannya dengan berbagi atau belajar melepas sedikit demi sedikit. Dengan cara ini kekikiran dapat kita singkirkan men-jadi dermawan. Selain itu juga di dalam Dhammapada syair 242, Sang Buddha menjelaskan bahwa “kekikiran adalah noda bagi seorang dermawan”. Jika kita memiliki sifat belas kasih, maka kita akan memahami kondisi orang lain yang membutuhkan bantuan kita sehingga akan muncul rasa ingin membantu tetapi akan menjadi sulit bagi mereka yang memiliki noda pelit dan kikir akan sulit untuk berbagi. Dhamma adalah jalan yang ditunjukkan oleh Sang Buddha dengan demikian dalam menjalani proses hidup ini kita senantiasa menggunakan Dhamma sebagai pedoman hidup untuk diterapkan dalam praktik nyata di kehidupan sehari-hari. Apabila kita ingin sampai tujuan dengan aman dan cepat, maka kita harus melewati jalan tersebut. Dhamma sebagai jalan bisa diibaratkan sebagai aplikasi GPS atau Maps. Buddha sendiri adalah pembuat aplikasi GPS-Nya, Dhamma adalah aplikasi GPS-nya, dan Sa?gha adalah orang yang menggunakan aplikasi GPS-nya dengan tepat sehingga bisa sampai pada tujuan yang diinginkan. Jika kita pengguna GPS tidak mengikuti petunjuk yang di arahkan, maka kita akan semakin jauh dari tujuan dan tidak bisa sampai pada tujuan dengan selamat. Demikian juga dengan Dhamma, bila kita menyeleweng dari Dhamma, maka kita akan semakin tersesat dan jauh dari tujuan, tetapi jika kita menjalankan mengikuti petunjuk dari Dhamma, maka kita akan bisa selamat dari derita dan memperoleh bahagia yang merupakan tujuan semua makhluk dan dapat merealisasikan kebebasan Nibb? Oleh Bhikkhu CattasenoMinggu, 16 Februari 2020 Dhammapada Syair Kebahagiaan Sukha Vagga01/197 Sungguh bahagia bila kita hidup tanpa membenci, di antara orang-orang yang membenci. Di antara orang-orang yang membenci, kita hidup tanpa membenci. 02/198 Sungguh bahagia bila kita hidup tanpa penyakit, di antara orang-orang yang berpenyakit. Di antara orang-orang berpenyakit, kita hidup tanpa penyakit. 03/199 Sungguh bahagia bila kita hidup tanpa keserakahan, di antara orang-orang yang serakah. Di antara orang-orang yang serakah, kita hidup tanpa keserakahan. Baca kisah perdamaian para kerabat Sang Buddha yang tengah berseteru . 04/200 Sungguh bahagia bila kita hidup tanpa keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Kita akan hidup bagaikan dewa brahma yang tinggal di alam cahaya. Baca kisah Mara menghasut para penduduk. 05/201 Kemenangan menimbulkan permusuhan, yang kalah hidup di dalam kesedihan. Kehidupan damai akan diperoleh dengan meninggalkan kemenangan dan kekalahan. Baca kisah kekalahan raja Pasenadi. 06/202 Tiada api yang menyamai nafsu, tiada kejahatan yang menyamai kebencian, tiada derita yang menyamai Lima Kelompok Kehidupan, tiada kebahagiaan yang menyamai Nibbana. Baca kisah sepasang pengantin baru. 07/203 Kelaparan adalah hal yang paling menyakitkan, Kelompok Kehidupan adalah sumber penyakit terparah, orang bijaksana yang mengetahui hal itu sebagaimana adanya, akan mencapai nibbana, kebahagiaan tertinggi. Baca kisah seorang upasaka. 09/205 Dengan merasakan penyepian dan kedamaian nibbana, seseorang yang meminum kenikmatan intisari Dhamma, akan bebas dari ketakutan dan kejahatan. Baca kisah biksu Tissa. 10/206 Adalah sangat baik bila bertemu dengan orang suci, hidup bersama mereka akan selalu menyenangkan, tidak bertemu dengan orang bodoh, juga adalah hal yang menyenangkan. 11/207 Ia yang berjalan bersama dengan orang-orang bodoh, akan berduka dalam waktu yang lama, hidup bersama orang-orang bodoh akan menyakitkan, bagaikan hidup bersama musuh, hidup bersama orang bijaksana akan membahagiakan, bagaikan hidup bersama sanak saudara. 12/208 Oleh karena itu, seseorang harus mengikuti orang-orang suci yang tegas, pandai, terpelajar, tekun, dan patuh, ikutilah orang yang suci dan bijaksana seperti itu, bagaikan bulan mengikuti peredaran bintang-bintang. Baca kisah Sakka, raja para dewa alam Trayastrimsa. Kisah “Kata-kata Kebahagiaan Sang Buddha” Dua syair ini, syair 153 dan 154 Kitab Suci Dhammapada, adalah ungkapan tulus dan mendalam dari kebahagiaan yang dirasakan Sang Buddha pada saat Beliau mencapai Penerangan Sempurna. Syair-syair ini diulang di Vihara Jetavana atas permintaan dari Yang Ariya Ananda. Pangeran Siddhatta, dari keluarga Gotama, anak dari Raja Suddhodana dan Ratu Maya dari kerajaan suku Sakya, meninggalkan keduniawian pada usia 29 tahun dan menjadi pertapa untuk mencari Kebenaran Dhamma. Selama 6 tahun Beliau mengembara di lembah Gangga, menemui pemimpin-pemimpin agama yang terkenal, belajar ajaran dan metodenya. Beliau hidup dengan keras dan menyerahkan dirinya pada peraturan pertapaan yang keras. Tetapi Beliau merasa semua latihan itu tidak berguna. Akhirnya, Beliau memutuskan untuk menemukan kebenaran dengan jalannya sendiri, dan menghindari dua jalan ekstrim dari pemuasan kenikmatan yang berlebihan dan penyiksaan diri sendiri. Beliau menemukan Jalan Tengah’, yang menuju kebebasan mutlak, Nibbana. Jalan Tengah ini adalah Jalan Mulia Berfaktor Delapan, yaitu Pengertian Benar, Pikiran benar, Perkataan Benar, Perbuatan Benar, Mata Pencarian Benar, Daya Upaya Benar, Kesadaran Benar, dan Konsentrasi Benar. Pada suatu sore, duduk di bawah pohon Bodhi, di tepi sungai Neranjara, Pertapa Siddhattha Gotama mencapai Penerangan Sempurna’ Bodhi-nana atau Sabbannuta-nana pada usia 35 tahun. Pada saat malam jaga pertama, Siddhattha mencapai kemampuan batin pengetahuan kelahiran-Nya sendiri yang lampau Pubbenivasanussati-nana. Pada saat malam jaga kedua, Beliau mencapai kemampuan batin pengetahuan penglihatan tembus Dibbacakkhu-nana. Kemudian pada malam jaga ketiga, Beliau memahami hukum sebab akibat yang saling bergantungan Paticcasamuppada dalam hal kemunculan Anuloma demikian pula pengakhiran Patiloma. Menjelang fajar, Siddhattha Gotama dengan kemampuan akal-budinya, dan pandangannya yang terang mampu menembus pengetahuan Empat Kebenaran Mulia’. Empat Kebenaran Mulia adalah kebenaran mulia tentang penderitaan Dukkha Ariya Sacca, kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan Dukkha Samudaya Ariya Sacca, kebenaran mulia tentang akhir penderitaan Dukkha Nirodha Ariya Sacca, dan kebenaran mulia tentang jalan menuju akhir penderitaan Dukkha Nirodha Gamini Patipada Ariya Sacca. Terdapat juga dalam diri Beliau, dengan segala kemurniannya, pengetahuan tentang keberadaan kebenaran mulia’ Sacca-nana, pengetahuan tentang perlakuan yang diharapkan terhadap kebenaran mulia’ itu Kicca-nana dan pengetahuan tentang telah dipenuhinya perlakuan yang diharapkan terhadap kebenaran mulia’ itu Kata-nana, dengan demikian Beliau mencapai Sabbannuta-nana’ Bodhi-nana dari seorang Buddha. Sejak saat ini Beliau dikenal sebagai Buddha Gotama. Dalam hal ini, perlu dicatat jika Empat Kebenaran Mulia’, dengan tiga aspek tersebut di atas jadi keseluruhan ada 12 cara telah benar-benar jelas bagi Beliau, barulah Sang Buddha mengumumkan kepada umat manusia, para dewa, dan para brahma, bahwa beliau telah mencapai Penerangan Sempurna’, dan menjadi seorang Buddha’. Pada saat pencapaian tingkat ke-Buddha-an, Beliau membabarkan syair 153 dan 154 berikut ini Dengan melalui banyak kelahiran aku telah mengembara dalam samsara siklus kehidupan. Terus mencari, namun tidak kutemukan pembuat rumah ini. Sungguh menyakitkan kelahiran yang berulang-ulang ini. O, pembuat rumah, engkau telah ku lihat, engkau tak dapat membangun rumah lagi. Seluruh atapmu telah runtuh dan tiangmu belandarmu telah patah. Sekarang batinku telah mencapai Keadaan tak Berkondisi Nibbana’. Pencapaian ini merupakan akhir daripada nafsu keinginan.

syair dhammapada tentang kebahagiaan